Assalamualaikum...
Lagi cerita untuk dikongsikan bersama. Cubalah fikir hikmah dan pengajaran di sebalik cerita. Cerita dipetik dari hadis Rasulullah SAW. InsyaAllah, kalau diberi kesempatan, akan dikupaskan cerita ini dengan lebih mendalam...[tak janji...kalau diberi kesempatan waktu]...

Pengorbanan seorang budak demi Risalah, dan realiti kisah ini dengan kita
Dari Shuhaib Ar-Rumi radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang raja pada zaman sebelum kalian. Dia memiliki seorang tukang sihir.
Apabila tukang sihir itu telah tua, ia berkata kepada sang raja, ‘Sesungguhnya usiaku telah tua dan ajalku telah dekat. Karena itu, utuslah kepadaku seorang anak muda agar aku ajari sihir’.
Maka diutuslah seorang pemuda yang kemudian dia ajari sihir. Dan jalan antara raja dengan tukang sihir itu terdapat seorang rahib. Pemuda itu mendatangi rahib dan mendengarkan pembicaraannya. Pemuda tersebut begitu kagum kepada rahib dan pembicaraannya.
Oleh itu, apabila sampai kepada tukang sihir serta merta dia dipukulnya kerana terlambat seraya ditanya, ‘Apa yang menghalangmu?’
Dan begitu juga apabila sampai di rumahnya, keluarganya memukulnya seraya bertanya, ‘Apa yang menghalangmu (sehingga terlambat pulang)?’
Lalu, dia pun mengadukan halnya kepada rahib. Rahib berkata, ‘Jika tukang sihir ingin memukulmu katakanlah, aku terlambat kerana keluargaku. Dan jika keluargamu hendak memukulmu maka katakanlah, aku terlambat kerana (belajar dengan) tukang sihir’.
Suatu hari, dia menyaksikan binatang besar dan menakutkan yang menghalangi jalan manusia, sehingga mereka tidak boleh menyeberang. Maka pemuda tersebut berkata, ‘Saat ini aku akan mengetahui, apakah perintah ahli sihir lebih dicintai Allah ataukah perintah rahib. Setelah itu ia mengambil batu seraya berkata, ‘Ya Allah, jika perintah rahib lebih engkau cintai dan ridhai daripada perintah tukang sihir maka bunuhlah binatang ini, sehingga manusia boleh menyeberang’. Lalu dia melemparnya, dan binatang itu pun terbunuh kemudian dia pergi. Maka dia beritahukan halnya kepada rahib. Lalu rahib berkata, ‘Wahai anakku, kini engkau telah menjadi lebih utama dari diriku. Kelak, engkau akan diuji. Jika engkau diuji maka jangan tunjukkan diriku.
Selanjutnya, pemuda itu mampu menyembuhkan orang buta, sopak dan segala jenis penyakit. Allah menyembuhkan mereka melalui kedua tangannya.
Alkisah, ada pembesar raja yang tiba-tiba buta. Ia mendengar tentang pemuda itu. Maka ia membawa hadiah yang banyak kepadanya seraya berkata, ‘Sembuhkanlah aku, dan engkau boleh memiliki semua ini!
Pemuda itu menjawab, ‘Aku tidak mampu menyembuhkan seseorang. Yang mampu menyembuhkan adalah Allah Azza wa Jalla. Jika Anda beriman kepada Allah dan berdo’a kepadaNya, niscaya DIA akan menyembuhkanmu. Dia lalu beriman dan berdo’a kepada Allah dan sembuh.
Kemudian dia datang kepada raja dan duduk di sisinya seperti sedia kala. Raja bertanya, ‘Wahai fulan, siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?’
Dia menjawab, ‘Tuhanku’.
Raja berkata, ‘Saya?’
‘Tidak, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’, tegasnya.
Raja bertanya, ‘Apakah kamu memiliki Tuhan selain diriku?’
Ia menjawab, ‘Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’.
Demikianlah, sehingga dia terus-menerus disiksa sampai dia menunjukkan kepada pemuda tersebut. Pemuda itu pun didatangkan.
Raja berkata, ‘Wahai anakku, sihirmu telah sampai pada tingkat kamu mampu menyembuhkan orang buta, sopak dan berbagai penyakit lainnya’.
Pemuda menangkis, ‘Aku tidak mampu menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah Azza wa Jalla.
Raja berkata, ‘Aku?’
‘Tidak!’, kata pemuda.
‘Apakah kamu punya Tuhan selain diriku?’
Dia menjawab, ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’.
Lalu dia pun terus disiksa sehingga ia menunjukkan kepada rahib. Maka rahib itu pun didatangkan.
Raja berkata, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua.
Kepada pembesar raja yang (dulunya) buta juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Dia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua.
Kepada pemuda juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak.
Lalu bersama beberapa orang dia dikirim ke gunung ini dan itu.
(Sebelumnya) Raja berpetuah, ‘Ketika kalian telah sampai pada puncak gunung maka bila ia kembali kepada agamanya (biarkanlah dia). Jika tidak, maka lemparkanlah dia! Mereka pun berangkat.
Ketika sampai di ketinggian gunung, sang pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah diriku dari mereka, sesuai dengan kehendakMu. Tiba-tiba gunung itu mengguncang mereka, sehingga se-muanya tergelincir. Lalu pemuda datang mencari sampai bertemu raja kembali.
Raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’
Dia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’.
Kembali dia dikirim bersama beberapa orang dalam sebuah perahu kecil.
Raja berkata, ‘Jika kalian berada di tengah lautan (maka biarkanlah dia) jika kembali kepada agamanya semula. Jika tidak, lemparkanlah dia ke laut yang luas dan dalam’.
Pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah aku dari mereka, sesuai dengan kehendak-Mu’. Akhirnya mereka semua tenggelam dan sang pemuda datang lagi kepada raja.
Sang raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’
Dia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’.
Lalu pemuda berkata, ‘Wahai raja, kamu tidak akan bisa membunuhku sehingga engkau melakukan apa yang kuperintahkan. Jika engkau melakukan apa yang aku perintahkan maka engkau akan boleh membunuhku. Jika tidak, engkau tak akan boleh membunuhku’.
Raja berkata, ‘Perintah apa?’
Pemuda menjawab, ‘Kumpulkanlah orang-orang di satu padang yang luas, lalu saliblah aku di batang pohon. Setelah itu ambillah anak panah dari wadah panahku, lalu ucapkan, ‘Bismillahi rabbil ghulam (dengan nama Allah, Tuhan pemuda).
Maka (raja memanahnya) dan anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di bagian yang kena panah lalu meninggal dunia.
Maka orang-orang berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan sang pemuda. Kami beriman kepada Tuhan pemuda.
Lalu dikatakan kepada raja, ‘Tahukah Anda, sesuatu yang selama ini Anda takutkan? Kini sesuatu itu telah tiba, semua orang telah beriman.
Lalu ia memerintahkan membuat parit-parit di beberapa persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamnya. Dan raja pun bertitah, ‘Siapa yang kembali kepada agama-nya semula, maka biarkanlah dia. Jika tidak, maka lemparkanlah dia ke dalamnya’. Maka orang-orang pun menolaknya sehingga mereka bergantian dilemparkan ke dalamnya. Hingga tibalah giliran seorang wanita bersama bayi yang sedang disusuinya. Sepertinya, ibu itu enggan untuk terjun ke dalam api. Tiba-tiba sang bayi berkata, ‘Bersabarlah wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran’.”
HR. Ahmad dalam Al-Musnad, 6/16-18, Muslim dan An-Nasa’i dari hadits Hammad bin Salamah.
Dan An-Nasa’i serta Hammad bin Zaid menambahkan, yang keduanya dari Tsabit. Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari jalan Abdurrazak dari Ma’mar dari Tsabit dengan sanad darinya.
Ibnu Ishaq memasukkannya dalam Sirah dan disebutkan bahwa nama pemuda itu adalah Abdullah bin At-Tamir.
[diedit dari artikel asal tanpa mengubah sebarang jalan cerita, just perubahan ayat dan beberapa perkataan]
Kisah Ghulam
Written by Firdaus Shah
Monday, 19 November 2007
Lagi cerita untuk dikongsikan bersama. Cubalah fikir hikmah dan pengajaran di sebalik cerita. Cerita dipetik dari hadis Rasulullah SAW. InsyaAllah, kalau diberi kesempatan, akan dikupaskan cerita ini dengan lebih mendalam...[tak janji...kalau diberi kesempatan waktu]...

Dan katakanlah: Telah datang kebenaran (Islam) dan hilang lenyaplah perkara yang salah (kufur dan syirik);
sesungguhnya yang salah itu sememangnya satu perkara yang tetap lenyap
sesungguhnya yang salah itu sememangnya satu perkara yang tetap lenyap
Pengorbanan seorang budak demi Risalah, dan realiti kisah ini dengan kita
Dari Shuhaib Ar-Rumi radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang raja pada zaman sebelum kalian. Dia memiliki seorang tukang sihir.
Apabila tukang sihir itu telah tua, ia berkata kepada sang raja, ‘Sesungguhnya usiaku telah tua dan ajalku telah dekat. Karena itu, utuslah kepadaku seorang anak muda agar aku ajari sihir’.
Maka diutuslah seorang pemuda yang kemudian dia ajari sihir. Dan jalan antara raja dengan tukang sihir itu terdapat seorang rahib. Pemuda itu mendatangi rahib dan mendengarkan pembicaraannya. Pemuda tersebut begitu kagum kepada rahib dan pembicaraannya.
Oleh itu, apabila sampai kepada tukang sihir serta merta dia dipukulnya kerana terlambat seraya ditanya, ‘Apa yang menghalangmu?’
Dan begitu juga apabila sampai di rumahnya, keluarganya memukulnya seraya bertanya, ‘Apa yang menghalangmu (sehingga terlambat pulang)?’
Lalu, dia pun mengadukan halnya kepada rahib. Rahib berkata, ‘Jika tukang sihir ingin memukulmu katakanlah, aku terlambat kerana keluargaku. Dan jika keluargamu hendak memukulmu maka katakanlah, aku terlambat kerana (belajar dengan) tukang sihir’.
Suatu hari, dia menyaksikan binatang besar dan menakutkan yang menghalangi jalan manusia, sehingga mereka tidak boleh menyeberang. Maka pemuda tersebut berkata, ‘Saat ini aku akan mengetahui, apakah perintah ahli sihir lebih dicintai Allah ataukah perintah rahib. Setelah itu ia mengambil batu seraya berkata, ‘Ya Allah, jika perintah rahib lebih engkau cintai dan ridhai daripada perintah tukang sihir maka bunuhlah binatang ini, sehingga manusia boleh menyeberang’. Lalu dia melemparnya, dan binatang itu pun terbunuh kemudian dia pergi. Maka dia beritahukan halnya kepada rahib. Lalu rahib berkata, ‘Wahai anakku, kini engkau telah menjadi lebih utama dari diriku. Kelak, engkau akan diuji. Jika engkau diuji maka jangan tunjukkan diriku.
Selanjutnya, pemuda itu mampu menyembuhkan orang buta, sopak dan segala jenis penyakit. Allah menyembuhkan mereka melalui kedua tangannya.
Alkisah, ada pembesar raja yang tiba-tiba buta. Ia mendengar tentang pemuda itu. Maka ia membawa hadiah yang banyak kepadanya seraya berkata, ‘Sembuhkanlah aku, dan engkau boleh memiliki semua ini!
Pemuda itu menjawab, ‘Aku tidak mampu menyembuhkan seseorang. Yang mampu menyembuhkan adalah Allah Azza wa Jalla. Jika Anda beriman kepada Allah dan berdo’a kepadaNya, niscaya DIA akan menyembuhkanmu. Dia lalu beriman dan berdo’a kepada Allah dan sembuh.
Kemudian dia datang kepada raja dan duduk di sisinya seperti sedia kala. Raja bertanya, ‘Wahai fulan, siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?’
Dia menjawab, ‘Tuhanku’.
Raja berkata, ‘Saya?’
‘Tidak, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’, tegasnya.
Raja bertanya, ‘Apakah kamu memiliki Tuhan selain diriku?’
Ia menjawab, ‘Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’.
Demikianlah, sehingga dia terus-menerus disiksa sampai dia menunjukkan kepada pemuda tersebut. Pemuda itu pun didatangkan.
Raja berkata, ‘Wahai anakku, sihirmu telah sampai pada tingkat kamu mampu menyembuhkan orang buta, sopak dan berbagai penyakit lainnya’.
Pemuda menangkis, ‘Aku tidak mampu menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah Azza wa Jalla.
Raja berkata, ‘Aku?’
‘Tidak!’, kata pemuda.
‘Apakah kamu punya Tuhan selain diriku?’
Dia menjawab, ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah’.
Lalu dia pun terus disiksa sehingga ia menunjukkan kepada rahib. Maka rahib itu pun didatangkan.
Raja berkata, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua.
Kepada pembesar raja yang (dulunya) buta juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Dia menolak. Lalu di tengah-tengah kepalanya diletakkan gergaji dan ia dibelah menjadi dua.
Kepada pemuda juga dikatakan, ‘Kembalilah kepada agamamu semula!’ Ia menolak.
Lalu bersama beberapa orang dia dikirim ke gunung ini dan itu.
(Sebelumnya) Raja berpetuah, ‘Ketika kalian telah sampai pada puncak gunung maka bila ia kembali kepada agamanya (biarkanlah dia). Jika tidak, maka lemparkanlah dia! Mereka pun berangkat.
Ketika sampai di ketinggian gunung, sang pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah diriku dari mereka, sesuai dengan kehendakMu. Tiba-tiba gunung itu mengguncang mereka, sehingga se-muanya tergelincir. Lalu pemuda datang mencari sampai bertemu raja kembali.
Raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’
Dia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’.
Kembali dia dikirim bersama beberapa orang dalam sebuah perahu kecil.
Raja berkata, ‘Jika kalian berada di tengah lautan (maka biarkanlah dia) jika kembali kepada agamanya semula. Jika tidak, lemparkanlah dia ke laut yang luas dan dalam’.
Pemuda berdo’a, ‘Ya Allah, jagalah aku dari mereka, sesuai dengan kehendak-Mu’. Akhirnya mereka semua tenggelam dan sang pemuda datang lagi kepada raja.
Sang raja bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan kawan-kawanmu?’
Dia menjawab, ‘Allah menjagaku dari mereka’.
Lalu pemuda berkata, ‘Wahai raja, kamu tidak akan bisa membunuhku sehingga engkau melakukan apa yang kuperintahkan. Jika engkau melakukan apa yang aku perintahkan maka engkau akan boleh membunuhku. Jika tidak, engkau tak akan boleh membunuhku’.
Raja berkata, ‘Perintah apa?’
Pemuda menjawab, ‘Kumpulkanlah orang-orang di satu padang yang luas, lalu saliblah aku di batang pohon. Setelah itu ambillah anak panah dari wadah panahku, lalu ucapkan, ‘Bismillahi rabbil ghulam (dengan nama Allah, Tuhan pemuda).
Maka (raja memanahnya) dan anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya di bagian yang kena panah lalu meninggal dunia.
Maka orang-orang berkata, ‘Kami beriman kepada Tuhan sang pemuda. Kami beriman kepada Tuhan pemuda.
Lalu dikatakan kepada raja, ‘Tahukah Anda, sesuatu yang selama ini Anda takutkan? Kini sesuatu itu telah tiba, semua orang telah beriman.
Lalu ia memerintahkan membuat parit-parit di beberapa persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamnya. Dan raja pun bertitah, ‘Siapa yang kembali kepada agama-nya semula, maka biarkanlah dia. Jika tidak, maka lemparkanlah dia ke dalamnya’. Maka orang-orang pun menolaknya sehingga mereka bergantian dilemparkan ke dalamnya. Hingga tibalah giliran seorang wanita bersama bayi yang sedang disusuinya. Sepertinya, ibu itu enggan untuk terjun ke dalam api. Tiba-tiba sang bayi berkata, ‘Bersabarlah wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran’.”
HR. Ahmad dalam Al-Musnad, 6/16-18, Muslim dan An-Nasa’i dari hadits Hammad bin Salamah.
Dan An-Nasa’i serta Hammad bin Zaid menambahkan, yang keduanya dari Tsabit. Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari jalan Abdurrazak dari Ma’mar dari Tsabit dengan sanad darinya.
Ibnu Ishaq memasukkannya dalam Sirah dan disebutkan bahwa nama pemuda itu adalah Abdullah bin At-Tamir.
[diedit dari artikel asal tanpa mengubah sebarang jalan cerita, just perubahan ayat dan beberapa perkataan]
Kisah Ghulam
Written by Firdaus Shah
Monday, 19 November 2007
0 MaklumBalas:
Post a Comment